Tampilkan postingan dengan label OpenSource. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OpenSource. Tampilkan semua postingan

Indonesia Go Open Source



Berat rasanya jika harus mengakui bahwa sebenarnya kita tidak sedang hidup di tempat yang padanya 'understand first, act then' dijalankan dengan benar.. bahkan juga tidak sepenuhnya dengan baik. Ah, tapi sudahlah.. kalimat diatas boleh saja hanya disikapi semacam makanan pembuka dengan rasa ala kadarnya dan tidak begitu penting karena sebenarnya yang diharap segera kedatangannya adalah makanan utama hidangan makan (pagi, siang atau malam) ini. Tapi berhubung catatan ini ringan-ringan saja, maka mungkin sebenarnya tulisan kali ini hanya seperti singkatnya makan siang kita biasanya.

Jika harus menjawab apa 'motivasi' penulisan, maka saya tidak pernah lupa pada pertanyaan seorang kawan, (capt.) Ketut Riasmaja, lebih dari satu tahun yang lalu tentang "Kenapa OpenSource, Kang?" . Satu tahun lebih, dan jawaban itu, sampai saat ini masih bisa diperlebar kemanapun arahnya, terlebih jika subjek pembicaraannya adalah manusia Indonesia termasuk saya, Anda dan kita semua.

Dan jika harus menjawab apa 'pemicu' publikasi ini, maka jawabnya adalah kekurangpahaman saya pada suatu hari atas 'status' seseorang di facebok.com, yaitu "MOZILLA FIREF**K !!". Kita semua tahu bahwa dua tanda bintang tersebut mewakilkan kata "MOZILLA FIREFUCK !!" dengan sedikit sensor. Sasarannya sudah barang tentu Browser keluaran Mozilla yaitu Firefox. Lalu, apa yang salah dari Foxy sampai harus diacungi jari tengah seperti ini?. Foxy, (seperti kita tahu) free, open, bahkan faster than all other FUCKING browsers :p (sorry, it's a blog, so i don't need to censor it, right?!). Nah, jadi... ini berarti murni karena saya yang terlalu bodoh saja.

Catatan kecil berikut sebenarnya (ternyata) adalah satu dari sekian lebar jawaban atas pertanyaan diatas. Dan kali ini, permasalahan 'harga' legalitas saya pilih sebagai kambing hitam yang (maaf sekali) patut dipersalahkan khusus untuk pendapat-pendapat itu. Tulisan pendek ini, sebelumnya pernah tersimpan di komputer saya sebagai persiapan untuk kegiatan semacam kompetisi menulis tentang IGOS oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi RI beberapa waktu lalu. Namun tidak jadi saya kirimkan karena beberapa hal, yang salah satunya mungkin karena saya terlalu pengecut untuk 'membisikkan isi pikiran' saya pada seorang Menteri. Tapi itu sudah tidak lagi penting, karena hari inilah mungkin saat bagi saya menebus kepengecutan itu.

Dan sebagai kemasannya, sudah pasti tidak saya salin sebagai bagian tulisan ini karena akan terlalu panjang. Kawan-kawan yang menginginkan bisa mendownloadnya sesuai dengan format yang diingikan. Satu hal lagi, jika ada yang menanyakan tentang keabsahan menggunakan format file yang saya bawakan berikut, maka jawabnya adalah "PDF, TXT atau bahkan DOC hanyalah sebuah format file. Tidak dibutuhkan lisensi untuk membuat file-file PDF, TXT atau DOC dan semua jenis OS bisa dengan mudah membuatnya. Jadi format file adalah OpenSource. Sedangkan predikat Non-OpenSource adalah jika file-file tersebut di'kunci' dengan perangkat tertentu, yang disebut DRM". Hal ini semata-mata hanya bentuk kecil kontribusi saya terhadap tulisan saya sendiri.

Maka, Selamat menikmati makan siang..

Download dalam format PDF, TXT, OpenOffice ODT, XPS atau MS-Office DOC.

”
Indonesia menuju perangkat lunak berbasis OpenSource. Sebuah nama singkat tapi sayangnya adalah cita-cita yang saat ini terasa terlampau tinggi. Tapi tingginya target yang seakan tidak mudah kita raih ini adalah akibat paradoksal dari ramai dan meningkatnya persaingan produsen PC atau perangkat-perangkat komputer pada umumnya yang bagi kita, Indonesia, negeri tercinta dengan serbuan pemain-pemain bisnis piranti ini terntu saja juga telah memiliki peran dalam meningkatnya kadar dilematis dalam menentukan apakah seharusnya dari sejak semula dikenalkan pada perangkat-perangkat lunak tertentu yang tidak melanggar peraturan secara hukum.


Download for further reading...

Ya, mungkin itulah sedikit bisa tersampaikan. Saya tahu kita pasti belum kenyang, tapi... masih ada 'makan malam', nanti jika waktunya tiba. Mohon maaf dan terimakasih.

Ditulis sebagai pengingat untuk saya, dan yang menginginkan.

#PS :
  • Tulisan ini dipublikasi dari blogger.com bukan dari notes facebook.com
  • Saya sedikitpun tidak mengambil keuntungan dalam bentuk mata uang apapun atas terdownloadnya file-file diatas. File tersebut saya titipkan pada server Google yang sama sekali tidak menggunakan sistem Paid Per Click, Paid Per Download atau yang semacamnya

Hak cipta gambar "LINUX" ada pada motivasionalposteronline.blogpot.com

[+/-] Selengkapnya...

Pesan Manis Dari OpenSource


Paket CD UbuntuPagi tadi, kira-kira pukul 10.00 WIB. Surat "cinta" itu datang kepada saya. Sebuah salam manis dari opensource kepada saya datang dari negeri nun jauh disana, Belanda. Pak POS (jangan panggil mereka dengan titel "Tukang", tugas mereka terlalu mulia untuk disebut "tukang pos"). Satu bundel terbungkus plastik bersegel sampai ke tangan saya. Berhubung saya sudah lama meninggalkan surat-menyurat lewat pos sejak empat tahun lalu, sudah tertebak bahwa kiriman ini pastilah datang dari Canonical LTD, perusahaan/organisasi yang berkomitmen untuk mengembangkan, mendistribusikan dan mempromosikan produk-produk opensource. Dan ternyata benar, paket tersebut memang datang dari Canonical yang mengirimkan kepada saya sebuah paket CD instalasi Ubuntu-LINUX versi terbarunya yaitu versi 8.04 dengan codename Hardy Heron. Saya melakukan request CD ke shipit.ubuntu.com yang disetujui oleh pihak canonical tertanggal 29 Juni 2008. Memang seperti datang lebih cepat karena janji Canonical LTD, adalah 4- 6 minggu tergantung jarak negara tempat kita tinggal.

Kenapa saya sebut surat "cinta", karena memang seperti yang sudah pernah saya tulis pada posting sebelumnya bahwa Ubuntu 8.04 LTS berhasil mencuri setengah hati saya. Akan terlalu panjang jika saya ceritakan lagi.

Sebuah kata-kata manis dari gus dengan komentarnya pada posting sebelum ini, seperti menjadi prediksi akan datangnya paket ini. CD yang saya terima ini, sangatlah jauh dari kesan label "gratisan". Belum lagi isinya. Sesaat saya berfikir bahwa, Ubuntu jika saja MAU murni berbisnis. Maka Harga sebuah CD Windows XP Home Edition yang pernah saya (harus) beli, kira-kira 3 bulan yang lalu akan menjadi terlampau mahal. Bandingkan saja, XP-Home seharga $ 84,00 plus saya harus mendatangi agen penjualnya berbanding dengan $ 0,00 plus barang sampai langsung ke tangan saya. Itu adalah masalah harga. Jika-pun kita sisihkan sejenak, masih banyak hal lain yang kemudian menjadi titik tolak saya pribadi lebih mendukung Opensource.

Bukan berbisnis-nya yang saya tolak. Saya pun (berusaha) mengerti bahwa Bill Gates dengan Microsoft-nya bisa jadi juga telah melakukan sebuah usaha maksimal untuk menjadikan produknya memang pantas dijual. Tapi bukan itu maksud saya. Bukan "gratisan"nya. Yang saya tidak setuju adalah mental melanggar-nya. Singkatnya saya katakan "Jika nyaman dengan Windows, maka belilah, karena windows menjualnya. Jangan membajak." Memalukan bagi saya utamanya jika sebuah institusi besar (saya pernah menyaksikannya) masih dengan santai menggunakan windows XP yang oleh pihak microsoft disebut victim of counterfeit (korban pembajakan). Sudah cukup halus, karena bisa jadi ternyata bukan hanya korban tapi juga menikmati menjadi korban. Padahal kiranya cukup sepadan jika komersial dibayar dengan komersial. Saya masih sedikit rela jika "korban" ini adalah pengguna pribadi apalagi yang dengan sadar mengatakan "Jika nanti saya mampu, saya akan hanya punya dua pilihan, ambil dengan dengan cara yang benar atau tinggalkan sama sekali"

Jika kesulitan dengan harga Microsoft Windows yang terlalu mahal, setidaknya seorang bernama Linus Benedict Torvalds telah berhasil (di mata saya) menjungkir-balikkan kesulitan kita dengan konsep open-sourcenya, yang kemudian bersambung pada free opensource. Gunakan Linux jika kita keberatan membeli product microsoft untuk kebutuhan OS komputer kita. Memang (semoga saja) saya tidak sedang menyalahkan pengguna Windows yang seakan sudah dibuat terlena dengan kenyamanan windows, tapi belum sanggup jika harus membeli. Saya juga mengerti bahwa Windows terlalu mahal, tapi bersabarlah. Bersabar dari apa?, bersabar dari perbuatan mencaci Microsoft dengan tangan kanan, sementara tangan kiri mencuri Microsoft. Produk Microsoft memang terlalu mahal, tapi kemudian ini tidak bisa menjadikan kita terus-menerus malafide.

Request CD UbuntuSederhana saja, kawan-kawan hanya tinggal membuat sebuah akun request CD di https://launchpad.net/+login?origin=shipit-ubuntu dan setelah meng-konfirmasi dari e-mail, kawan-kawan akan diarahkan ke https://shipit.ubuntu.com/login untuk login dan melanjutkan dengan mengisi form yang disediakan. Pilih CD Ubuntu yang kita minta, Isikan Nama dan seterusnya sampai dengan Nomor Telepon. Yang sangat dibutuhkan kejelasannya tentunya adalah alamat pengiriman. CD yang kita request tidak hanya dibatasi 1 saja, tapi bisa lebih dengan melakukan special request di https://shipit.ubuntu.com/specialrequest. Itu saja dan selesai, tinggal menunggu. Pengalaman dari kawan-kawan yang lain, yang juga pernah menerima CD Ubuntu cukup beragam (mungkin bergantung pada kuantitas permintaan CD yang diajukan), ada yang diminta mengambil ke kantor pos dan dikenakan biaya pengiriman, tapi ada pula yang langsung sampai ke tangan tanpa biaya sedikitpun seperti yang saya sendiri alami.

Mengutip perkataan gus ketika beliau mengirimkan surat keberatan kepada TEMPO (kenapa mengutip gus?, karena gus bukanlah pakar telematika yang suka menyangka salah kutip pada pihak tertentu) di blog beliau kepada saya, "sebenarnya saya sadar, kalau protes atau suara saya hanya mirip judul filmnya Garin bagi Tempo : Pasir berbisik....". Demikian pula tulisan ini yang hanyalah sebuah bisikan pasir yang akan dengan mudahnya tersapu ombak.

#PS [update] : Menilik komentar salah satu guru saya Kang Jaloe untuk postingan ini (setelah beberapa jam setelah posting ini di-publish), saya tiba-tiba merasa mungkin kang Jaloe (dan yang mungkin yang lainnya), merasa terganggu atau mungkin tersinggung. Bila itu terjadi saya mohon maaf yang setinggi-tingginya. Saya sendiri juga tidak menampik bahwa di Lingkungan LINUX-OS, yang sering jadi hambatan banyak orang berpindah dari Windows ke Linux adalah kurangnya banyak dukungan terhadap piranti lunak pengolah gambar dan video. Saya pribadi menyesalkan hal ini. Jadi dengan tulisan ini, saya sama sekali tidak bermaksud mengkampanyekan Anti-Windows ataupun Anti-Microsoft. Motivasi utama penulisan ini ada dua. Pertama, ini adalah seperti luapan kegembiraan anak ingusan yang baru saja diberi permen dari orang yang tak-dikenal :) dan kedua, sebuah demonstrasi ala saya kepada satu dari sekian instansi besar (sayangnya di lingkungan pendidikan) yang pernah saya dapati menggunakan produk bajakan, yang dari sudut pandang siapapun sangat tidak pantas. Mengenai pengguna lain, saya sudah wakilkan dengan kata "rela". Sekali lagi saya mohon maaf, terutamanya untuk Kang Jaloe. Semoga maaf saya diterima.


[+/-] Selengkapnya...

Ubuntu 8.04 LTS berhasil mencuri setengah hati saya


Ubuntu | Blog Firdaus

Dominasi Microsoft Windows (untuk saat ini) sebagai sistem operasi yang (mungkin) paling banyak di gunakan di Indonesia -sejauh saya boleh menilai diri sendiri, tidak berhasil mencegah hati saya tercuri oleh Ubuntu-Linux.

Jika saya tarik mundur ke beberapa tahun lalu, saya sudah pernah mendapatkan paket CD Ubuntu-Linux versi 4.10. Berisi 2 keping CD yang ketika itu berisi 1 CD repository (installer) dan 1 keping lagi CD "Introductary" (ini istilah saya sendiri). Karena memang pada saat itu, Ubuntu baru saja dilahirkan, dan dianugerahi codename "Warty Warthog". Janggal, tapi memang seperti yang memang harus memberi nama "manusiawi" bagi developer software untuk hasil karya ciptanya. Karena toh jika kita ingat lagi, Windows XP-pun, punya nama lain yaitu. ya... "Whistler".

Pertama kali saya mendapatkan ubuntu 4.10, seperti ada yang aneh karena setahu saya angka yang menunjukkan pertama, biasanya adalah angka 1. Tapi kenapa Ubuntu menggunakan angka release 4.10 untuk versi pertamanya?. Ternyata, angka inilah yang memudahkan saya mengingat Tahun saya menerima CD repository Ubuntu waktu itu. Ya benar, Tahun 2004, Bulan 10 (oktober).

Versi ter-mutakhir Ubuntu saat ini adalah release 8.04, yang tentu saja bulan dan tahun release-nya, sudah bisa tertebak (sebenarnya bukan tertebak, karena memang Ubuntu sendiri juga menjelaskannya). Versi ini diberi nama "Hardy Heron". Ya, lagi-lagi pemberian kode nama yang unik, Sekarang kita coba perhatikan.

  • Ubuntu 4.10 [Warty Warthog] (kernel 2.6.7, Gnome v2.8)
  • Ubuntu 5.04 [Hoary Hedgehog] (kernel 2.6.10, Gnome v2.10)
  • Ubuntu 5.10 [Breezy Badger] (kernel 2.6.12, Gnome v2.12.1)
  • Ubuntu 6.06 [Dapper Drake] (kernel 2.6.15, Gnome v2.14)
  • Ubuntu 6.10 [Edgy Eft] (kernel 2.6.17, Gnome v2.16)
  • Ubuntu 7.04 [Feisty Fawn] (kernel 2.6.20, Gnome v2.18)
  • Ubuntu 7.10 [Gutsy Gibbon] (kernel 2.6.22, Gnome v2.20)
  • Ubuntu 8.04 [Hardy Heron] (kernel 2.6.24, Gnome v2.22.2)

Pastinya sudah terlihat. Nama-nama dibelakang angka release Ubuntu itu bukan nama teman-teman satu angkatan Harry Potter. Tapi, memang mirip algoritma penamaan tokoh rekaan JK.Rowling itu. Lihat saja, Edgy Eft, Feisty Fawn. Ini mengingatkan saya pada algoritma penamaan Godric Gryffindor, Salazar Slytherin, Rowena Ravenclaw dan Helga Hufflepuff asrama di Hogwarts. Ya kan. Dan jika Pikiran ini boleh melayang-layang, saya akan menyangka bahwa penamaan ini sepertinya ada campur tangan JK.Rowling. :)

Tapi bukan ini, sama sekali bukan itu yang sepertinya menggoyahkan pendirian saya atas penggunaan Microsoft Windows sampai saat ini. Sesungguhnya tidaklah terlalu adil jika membandingkan dua OS yang memang punya idealisme berbeda.

Dari segi harga saja, kita tahu bahwa harga Windows Vista Home Basic (versi paling rendah Vista) ada pada angka US$104, berbanding dengan Ubuntu 8.04 LTS seharga US$0. Keduanya belum dihitung ongkos kirim. Segi penampilan, saya berani mengklaim bahwa Ubuntu hanya berada 2 point pada skala 10 dibawah Vista (tapi dengan resource yang jauh lebih kecil), dan tentu saja Windows XP, bukan lawan yang seimbang. Lubang keamanan, tentu kitapun mengakui bahwa Ubuntu berdiri diatas kernel linux yang sangat rapat dari celah-celah keamanan yang lazim kita temukan di Windows. Kompatibilitas Ubuntu saat ini sudah terbilang cukup mapan, File System NTFS, sudah mampu dibaca juga ditulis dengan baik dibawah platform Ubuntu. Pengenalan sistem terhadap hardware sangat baik melihat driver bawaannya yang sudah sanggup "memperkenalkan" perangkat keras dengan Sistem Operasi. Tersedianya banyak developer software Open Source, membuat pilihan software di Ubuntu semakin luas. Dan lagi-lagi, semuanya Berlisensi GPL atau dengan kata lain.. Gratis.

Walaupun memang, sampai saat ini, ke-adigung-an Windows masih harus diterima. Karena ternyata, tidak semua pihak SIAP mengubah statusnya menjadi OpenSource. Seperti developer Game, yang masih banyak bermain di platform Windows. Saya sekalipun, sampai saat ini, belum pindah secara Total ke Ubuntu, Karena terkadang, saya masih menggunakan software pengolah video buatan SONY yang belum tergiur dengan OpenSource. :) Jika memungkinkan kita akan bicarakan lagi di lain kesempatan.

Itulah dia kenapa saya katakan, "setengah hati". Tapi... entah nanti.

[+/-] Selengkapnya...

 
Terima Kasih Dunia Atas Segala Inspirasi dan Warna Suara . DuaRibuDuaBelas. MMXII . Firdaus™
Subscribe with Bloglines Blog