Tampilkan postingan dengan label Bahwa kita pernah menjadi 'dulu'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahwa kita pernah menjadi 'dulu'. Tampilkan semua postingan

Kata Mereka, Hidup Itu....


Singkat saja pengantar dari saya. Dimulai dari gambar diatas ini, semua yang mereka katakan tidak harus kita nikmati dengan cara yang terlalu rumit karena toh bisa jadi mereka ini bukan siapa-siapa. Saran saya, .. Don't be to much listen at!, Most of 'em were dead, mate! :)


PART 1 : a lil bit serious, but it's fine.


» Life is what happens to you while you're busy making other plans.
John Lennon (1940 - 1980), "Beautiful Boy"


» Life is a tragedy when seen in close-up but a comedy in long shot.
Charles Spencer Chaplin (1889 - 1977)


» It's not true that life is one damn thing after another; it is one damn thing over and over.
Edna St. Vincent Millay (1892 - 1950)


» Life is just a bowl of pits.
Rodney Dangerfield (1921 - 2004)


» Life is a moderately good play with a badly written third act.
Truman Capote (1924 - 1984)


» Life is as tedious as a twice-told tale; Vexing the dull ear of a drowsy man.
William Shakespeare (1564 - 1616), "King John", Act 3 scene 4


» Life is a sexually transmitted disease.
R. D. Laing


» Life is a foreign language; all men mispronounce it.
Christopher Morley (1890 - 1957))


» Life is a fatal complaint, and an eminently contagious one.
Oliver Wendell Holmes (1809 - 1894), "The Poet at the Breakfast-Table", 1872


» Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.
Albert Einstein (1879 - 1955)


» Life is something that happens when you can't get to sleep.
Frances Ann "Fran" Lebowitz


» Life is shit!
Steven Aitchison (www.stevenaitchison.co.uk), and many other people too.. :)


» Life is rather like a tin of sardines - we're all of us looking for the key.
Alan Bennett


» Do not take life too seriously.
Elbert Hubbard


» Life is a classroom in which each of us is being tested, tried, and passed.
Robert Thibodeau


» Life is like a taxi. The meter just keeps a-ticking whether you are getting somewhere or just standing still.
Lou Erickso


» Life is a long headache in a noisy street.
John Masefield



Part 2 : a lil bit... you know lah.. :p


» Now, Life is flat -------- (._.).
@Rizkidarajat


» life is never flat RT @Rizkidarajat
@irnezaprl



» Hidup adalah REALISTIS yg hrus d jlnkan... Jangan terlalu banyak menggunakan PERASAAN
@intanrizkyjaenab


» Hidup tuh monoton makan boker main game masturbasi gtu gtu mulu sungguh membosankan
@ikbalislami


» Hidup tuh cari amal jgn cari eksis (•̯͡.•̯͡)
@syaikaoo


» Hidup adalah udunan
@gibralcm


» ...tujuan hidup malam ini adalah nonton film Bollywood di Indosiar. Sementara menunggu, akan nonton acara bakat2an dulu.
@ririanism


» bagi anak kaya kita, pulsa itu adalah sebagian dari hidup (?)
@christapat


» hidup itu pilihan mau lo MATI atau HIDUP.
@ajengs_onta


» Syukuri apa yang ada. Hidup adalah neraka. Neraka jahanam
@ineednooneofyou


» Siapa bilang hidup itu indah? Hidup itu ajaib.
@tiatimodh


» hirup teh meni kieu wae monoton
@billyeaah


» maeunya rek kieu wae hirup teh?
@haristkobra


» Hidup itu seperti roda,terkadang semua bisa terulang lagi
@posan13


» Hidup itu abstrak, gapercaya? Liat nilai rapot kamu #abaikan
@ardhanfadh


» Hidup itu seperti musik, yang harus di komposisi oleh telinga, perasaan dan instink, bukan oleh peraturan
@satrianda_sandy


» Sabar ya flo sayaang! Hidup itu berat! Kuat!!
@flomons


» Ya allaah kenapa sih hidup itu kadang tega dan gak adil ​(-̩̩-̩̩͡_-̩̩-̩̩͡)"
@murmutiara


» hidup itu harus geuleh -.,-
@dodollott


» Hidup Itu sekali, Tapi jatuh cintong boleh berkali-kali hhaaha
@radintanandaru


» Hidup itu tak lengkap tanpa Game Online
@Omar_zZz


» apakah hidup itu adalah penderitaan? ohhh
@oyayubiazura



PART 3 : Uhm...


» YOUR TURN.. :)
@you



Yah, begitulah.. Hidup. Kata mereka. Selamat menjalani semuanya.

Ditulis sebagai pengingat untuk saya, dan yang menginginkan.

Hak cipta gambar "Leanne195" ada pada pyzam.com

[+/-] Selengkapnya...

Karena Terkadang, Setiap Kita Adalah Dasamuka



Tiba-tiba teringat pada sebuah penggalan bait monolog yang kurang lebih bunyinya begini, "All the world's a stage, and all the men and women merely players: they have their exits and their entrances; and one man in his time plays many parts..." (Jaques - As You Like It, Act II/Scene 7, p139–42 - Shakespeare, W).

Entah bagaimana yang sebenarnya kata-kata tersebut harus diartikan, namun apa yang dituangkan William didalamnya memang sangat mudah dimengerti. Dan mari coba kita bandingkan dengan renyahnya bait lagu yang lebih sering kita kenal "... Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani, Setiap kita dapat satu peranan, Yang harus kita mainkan, Ada peran wajar dan ada peran berpura pura".

Secara sederhana, saya hanya ingin sedikit berbagi pertanyaan. Mana yang seharusnya kita sedang berpura-pura, dan mana yang seharusnya kita menjadi tidak dalam wujud dasamuka. Anggap saja jika untuk cerita kali ini, Dasamuka sedang tidak ada urusan dengan Rama karena kasus penculikan Sinta yang menggemparkan itu. Mari kita buat cerita baru dengan menganggap bahwa Dasamuka sedang murung dan memikirkan dirinya sendiri. Bagaimana jika sang raja yang selalu dinobatkan atas peran dengan perangai kontra-positif ini benar-benar dalam kegundahan memikirkan peran mana yang sebenarnya adalah jiwa An-Sich dirinya.

Ah, sudahlah.. Tidak semua wayang berlaku seperti demikian. Sosok Arimbi yang sejatinya bukanlah persona dengan kulit kuning langsat lemah gemulai-pun 'ditakdirkan' oleh Mahabharata sebagai pendamping setia Arjuna yang dengan ke-tidak-gagahannya itu selalu ada dalam tampuk kemenangan sandiwara. Atau mungkin, setiap wayang sebenarnya sedang tidak puas dengan Lakon-lakon yang didalamnya disebut namanya. Hanya Tuhan dan pengarang cerita itu yang tahu.

Jika beberapa waktu yang lalu sempat saya berjanji atas sebuah suguhan makan malam, mungkin inilah sedikit sajian dongeng setelah makan malam. Pengantar menjelang tidur yang didalamnya kita tidak seharusnya benar-benar tertidur. Mohon maaf dan terimakasih.

Ditulis sebagai pengingat untuk saya, dan yang menginginkan.

Hak cipta gambar "David Boss Abby Jones" ada pada austin360.com

[+/-] Selengkapnya...

Tidakkah Kamu Perhatikan ...


Dengan tidak mengurangi rasa hormat karena melulu berbicara tentang waktu yang seolah tidak pernah bosan saya bicarakan. "Penggemar" keahlian analisa kejiwaan mungkin akan dengan bangga (tapi tetap berusaha serius) berkata bahwa "Ooo.. berarti si penulis ini mengalami kekecewaaan atas waktu hingga selalu mengijinkan dirinya untuk membuka pagar lintas waktu yang telah lalu dengan terus membicarakannya, dengan harapan ia bisa kembali ke masa itu dan mengoreksi apa yang mungkin ia ingin benahi atau bla..bla..bla.." atau mungkin pula jika memang sudah tidak sanggup menebak apa yang sesungguhnya membuat saya begitu tertarik pada ciptaan Tuhan yang satu ini, mereka akan bilang "Ooo... Mungkin si penulis ini adalah orang irlandia.., Jadi maaf.. Freud sekalipun tak mampu berandai-andai atas apa yang terjadi pada kejiwaan mereka." :)

Sesungguhnya bukan itu yang terjadi. Kalau saja memang memungkinkan, justru bukan masa lalu yang saya incar. Tapi masa lain dimana kita bisa melihat dari ketinggian yang dengan berada di atasnya, perjalanan atas waktu dari masa lalu menuju masa depan (sampai berakhirnya) bisa terlihat jelas. Sudah tersadari bahwa untuk berada di posisi tersebut tidaklah mungkin. Karena apa?, ya tentu saja karena Tuhan sudah mengambil posisi itu. Sebuah posisi mutlak yang jiwa dan raga saya (atas kehendak Tuhan pula) tidak dipersiapkan untuk mampu menahan beban itu. Jadi selain tidak sopan pada Sang Empunya Hidup ini, tapi juga kita tidak akan pernah mampu mengambil alih posisi itu.

Tidak sedikit dari kita (semoga saya tidak termasuk), yang seolah-olah tampil sebagai penjaga mercusuar lautan waktu. Senjatanya... ucapan menggoda.. "Saya .. .. (nama).. saya mampu bla..bla..bla.. ketik REG spasi NAMA ANDA spasi TANGGAL LAHIR ANDA, maka saya akan.. bla..bla..bla.. kirim ke rekening bank saya.. maap maksudnya, XXXX (nomor hotline)". Secara tersirat, sesungguhnya seorang kawan (yang namanya enggan disebutkan) pernah menasehatkan supaya 'membiarkan' perilaku semacam ini. Karena, pun saya sadari bahwa suara se-menggelegar apapun belum tentu mampu sampai ke telinga mereka. Atau jika memang sampai ke telinganya, ternyata orang-orang ini juga sama seperti kita yang punya dua telinga dan percaya pula pada istilah umum "masuk telinga kiri keluar telinga kanan". Walaupun, keponakan saya yang masih duduk di bangku SMP sekalipun tahu bahwa tidak ada jalan pintas dari telinga kiri ke telinga kanan. :)

Lalu apa sebenarnya yang menjadikan hal-hal ini terjadi?. Jika mencoba ilmiah, kata-kata seseorang* telah menginspirasi saya untuk menjadikan tulisan ini sebagai sebuah (gagasan) jawaban untuk mereka yang merasa telah mampu berada di atas dilatasi waktu. Tapi sayang gagasan beliau* terlalu berat dan rumit jika harus saya rumuskan dalam waktu lima atau sepuluh menit dari sekarang. Jadi mungkin sebagai pengantar (itupun jika masih ada waktu untuk saya), cukup saya sampaikan cuplikan perkataan berikut (tidak tepat kata per kata, tapi saya berusaha se-sesuai mungkin) :

Anggap seekor semut yang berjalan di dinding (atau lantai supaya lebih mudah membayangkan) rumah adalah berdimensi dua, artinya ia hanya memiliki sudut pandang dua dimensi (yaitu kanan-kiri-depan-belakang). Kemudian kita letakkan ujung jari telunjuk kita (dari arah atas semut) di jalur yang akan dilalui semut itu, maka apa yang terjadi.. Ya, semut itu hanya akan terheran-heran karena "tiba-tiba" dihadapannya muncul sebuah garis yang datangnya dari "arah" yang tidak ia ketahui (ingat bahwa kita anggap semut tadi tidak bisa mendongak ke atas). Kemudian semut ini akan mengatakan bahwa "garis" (yang sebenarnya adalah tangan kita) muncul dari alam ghaib. Artinya, ada satu dimensi lain yang tidak semut ketahui, tapi kita ketahui.


Cukup saja dulu, karena semakin banyak kata yang saya kutip akan semakin banyak pula kesalahan yang saya buat. Jadi, setidaknya sampai disini kita harus menyadari bahwa sesungguhnya Dia Yang Maha Besar, menciptakan 'hidup' ini dengan segala ketelitian yang berada jauh diatas dimensi yang kita punya sekarang. Jadi bukankah benar bahwa diatas bumi kita ini, masih ada langit. Diatas langit itu, masih ada langit. Dan begitu seterusnya. Jika si semut tadi menyimpulkan bahwa kita adalah makhluk ghaib, maka bukankah tidak mungkin kesimpulan itu juga berlaku untuk kita.

Bahkan Dia sudah terlalu baik memberi kita banyak contoh (salah satunya semut yang tidak tahu apa-apa itu tadi) untuk memahami sesuatu. Mungkin itu sebabnya Ia banyak menanyakan .. Tidakkah kamu Perhatikan.... ?


Ditulis sebagai nasehat untuk diri saya sendiri. dan yang menginginkan.




* : Santoso, Budi (2009, April 14). Course Lecture (Statistical Physics).
Universitas Nasional. Jakarta, ID

[+/-] Selengkapnya...

Bahwa Kita Pernah Menjadi 'Dulu'


Semoga ini bukanlah sebuah dosa. Untuk itu sebelumnya saya sampaikan maaf yang setulusnya. Karena bagaimanapun, semakin hari, semakin sulit jemari ini meramu kalimat-kalimat yang masih pantas disandingkan sebagai 'pelipur lara' yang kian hari pula, orientasi kata 'pelipur' justru semakin pupus dengan kata lain yang (semakin) lebih tepat men-definisikan arti kata 'obat'. Kita semua sadar bahwa perbedaan obat dan racun hanyalah pada dosisnya. Ingatkah kita pada perkataan mulia "racun di satu sayap, maka obatnya ada di sayap yang lainnya"?. Mungkin ini yang sering kita lupakan. Mungkin ini yang menyebabkan kita sering tidak mengerti apa maksud 'tertawa'nya mereka yang sering disebut 'orang gila'. Kita sering lupa bahwa 'bahagia' dan 'gila' hanya terpisahkan oleh perbedaan yang hanya sehelai benang tipis.

Tapi bahwa kita pernah menjadi 'dulu', adalah kejadian yang nyata. Bagaimana kita melepaskan satu kualitas makhluk yang tunduk pada ciptaan Tuhan yang bernama.. "waktu". Tidak sedikit dari kita yang diberi keleluasaan untuk mengerti, untuk belajar, memahami bahwa sampai kapanpun, detik-detik itu akan pernah berputar mundur. Tidak akan pernah. Bahkan Surga sekalipun, sepertinya tidak pernah merindukan penghuni yang mudah membuang hal yang satu ini.

Bukankah telah datang atas kita satu waktu dari masa, sedangkan kita ketika itu belumlah merupakan sesuatu yang dapat disebut?. Teringat pada perkataan ini, seketika runtuh badan ini. Bagaimana tidak, sudah pasti tersadari bahwa indera lihat ini dicipta untuk senantiasa membesarkan diri kita. Yang justru dengan kelengkapan ini, kita yang mengaku manusia akan senantiasa diuji. Apakah dengan mata ini kita melihat sesuatu yang benar?, atau apakah dengan telinga ini kita ijinkan suara-suara yang benar masuk kedalamnya?.

Sudahlah, sekarang akan segera menjadi 'dulu'. Meski waktu, sampai kapanpun tidak akan pernah berputar kembali. DeJavu hanyalah sebuah konsep keberadaan yang tidak pernah ada, justru karena itu kita menyebut sesuatu yang 'sepertinya' pernah terjadi dengan DeJavu. Tapi jelas, DeJavu Tidak pernah nyata. Benar bahwa tulisan macam ini hanyalah seperti mempersulit hidup yang memang yang sudah sulit. Tapi dengan tidak memperdulikan kesulitan yang ada, bisa jadi kita memang tidak pernah mengerti apa itu hidup. Ringkasnya.. Sepertinya Dia Yang Kuasa memang menciptakan sebuah momen pada alur hidup kita dengan unique. Unik berarti satu tanpa tanding.

Ah.. maafkan, tulisan barusan meluncur begitu saja menuliskan pembicaraan antara hati dan kepala.

[+/-] Selengkapnya...

Lomba menulis : Malam Ahad


Ini bukan ide saya. Ide ini datang dari kawan saya yang sebenarnya datang dari kawan yang lain. Bingung??. berikut diagram alur pembicaraan kamiyahoo messenger

Jadi begitu.. garis warna biru adalah pembicaraan pertama antara saya dan mister Rifu/ Mister Arif (rifu xiansheng artinya Mr. Rifu). Dimulai dari situ, muncul pernyataan "ooo mungkin seharusnya memang untuk mengisi malam ahad adalah melakukan sesuatu di luar pekerjaan biasanya". Pernyataan ini kemudian saya lontarkan ke saudara ifnul (garis warna merah). kemudian di 'balas' dengan tanggapan 'dingin' warna hijau itu. Singkatnya, bahwa mungkin memang untuk mereka yang sudah mengisi kepadatan aktivitas di hari lain, memang seperti harus "menjawab tantangan" malam minggu itu. Tapi bagi sebagian yang lain, mungkin tidak juga.. malah seharusnya waktu inilah yang tepat untuk beristirahat, sebelum besok hari senin harus kembali lagi ber... juang.

Ada beberapa "golongan" orang (sepertinya) yang menghabiskan malam minggu dengan hal lain yang memang tidak dilakukan di malam lain. Saya tidak bisa menyebut 'berapa'-nya.. yang pasti ada lebih dari satu jenis.
  1. Ke luar kota, mungkin ini bagi sebagian orang yang hidup di kota besar, yang ingin mencari suasana lain, diluar ke-kota-an. Itu sebabnya saya sedikit aneh jika ternyata, banyak juga yang pergi keluar kota, tapi tujuannya ke kota lain. Sama saja seperti memindah suasana.
  2. Kota-kota, atau jalan-jalan dalam kota saja.
  3. Naik gunung, ini bagi yang memang sudah gemar,
  4. Apel, mungkin ini dipengaruhi tingkat usia karena jika sudah melewati usia tertentu istilah apel mungkin sudah tidak cocok lagi. (ingat lirik lagu-lagu sekitar 80-an)
  5. Nongkrong (bukan berarti benar-benar nongkrong atau jongkok). Ada beberapa pembagian lagi di poin kelima ini. Ada yang nongkrong di pinggir jalan, dengan mobil atau motor misalnya. Ada yang di warung kopi menghabiskan segelas kopi tapi dengan seribu permasalahan yang ada di kepala.
  6. Balap liar, tidak selalu pengguna motor, pengguna mobil-pun ada yang juga melakukan ini. Untuk poin ini biasanya dipicu oleh kegiatan poin kelima. Tapi tidak selalu.
  7. ... hal lain, yang saya tidak tahu, tapi pasti ada.
Selainnya.. adalah yang tidak pernah membedakan dengan keras antara malam ahad ini dengan malam-malam lainnya, atau setidaknya ada hari lain yang juga bisa digunakan untuk "istirahat" dari hari sibuknya.

Lepas dari sebab musabab -yang sebenarnya kita pun tahu, ada yang sangat disayangkan, yaitu keterpaksaan mengikuti hari. Bukankah ada yang jauh lebih istimewa ini. Mau tidak mau, ada sebagian kita yang 'terpaksa' mensakralkan hari senin, tapi bukan untuk kecintaan pada sang pencipta, tapi untuk... (maaf) upacara misalnya. Tidak hanya itu, masih ada beberapa 'peristiwa' yang lebih bersifat 'rutinitas' yang secara tidak sadar akan menggiring kita pada 'pengagungan' lain yang tidak pada tempatnya. Karena kita tahu siapa pemilik yang seharusnya.

[+/-] Selengkapnya...

Hidup (sepertinya) adalah trap-trap


Sebagian kita akan menjawab judul posting ini dengan "Baru tau??" atau mungkin "?????". Entah mana yang harus saya lebih hargai dari dua jawaban itu, hanya saja keduanya malahan memenuhi kebutuhan pengertian "hidup adalah trap-trap".

Sungguh perkataan ini awalnya tidak bersesuaian dengan pemikiran 'dangkal' saya. Saya yang lemah ini sama sekali tiak menyadari kebenaran perkataan ini. Terlalu mambabi-buta mengagungkan peribahasa biasa "samudra kehidupan", yang dengan itu, maka kesan yang dicapai adalah bahwa dalam padanya kita sedang 'berenang' mengarungi bermacam bentuk gelombang datang entah dari depan, kanan, kiri atau mungkin belakang. Lalu apa yang tidak sesuai?. Asumsi saya (ini cuma permasalahan saya ternyata) samudra selalu punya ketinggian sama relatif terhadap si pengarungnya. Berasumsi bahwa air dapat berupa level-level bertingkat pada satu daerah yang sama bertentangan dengan hukum-hukum fisika yang secara naluri sekalipun harus diakui.

Jadi lagi-lagi entah sampai dimana sekarang kita sedang berdiri, entah di trap keberapa juga tidak bisa dengan jelas kita tahu. Cuma Dia. Ini bukanlah penyampaian konsep hidup, ini bukanlah pemaksaan isme tentang sikap hidup. Hanya sebuah wacana bahwa, bukankah kita sama sekali tidak pernah bisa melihat jauh kedepan. Bukankah mata yang Tuhan berikan ini adalah bekal kita melihat apa yang di'uji'kan didepan mata kita.

Bukankah telinga kita ini hanya sanggup mendengar pada kisaran radius yang tak seberapa. Bukankah kita hanya sanggup meraba. Entah sampai dimana. Pula entah sampai kapan, walaupun pasti suatu waktu 'nanti'. Bahkan menyebut kata "nanti" pun masih agak menohok pertanyaan "mungkin akan sampai ke 'nanti'" ?. Sampai dimana?, sampai dimana kemampuan kita menerawang jauh dekat hidup. Jika ada yang mampu, dan ternyata 'jabatan'nya bukan utusan Tuhan, yang memang sudah tertutup kesempatan untuk menjadi utusan Tuhan saat ini. Maka apalah yang mampu saya percaya dari kata-katanya. Yang saya yakini hanyalah, saat ini dia sedang berada pada trap dimana ia merasa penempuhannya atas hidup ini, sudah dipuncaknya. Tapi, madam, mama, ki, shu, bukankah kalian juga berada dalam trap-trap itu. Semoga mengerti.

[+/-] Selengkapnya...

Yogya Terhempas Dalam Puisinya : Re-Post


Saya suka, saya post ulang di blog ini, saya terimakasih. Hak Karya cipta Puisi ini, ada pada penulisnya, yaitu Zulhamdani, AS. Diunduh dari post di 2black2u.blogspot.com Posted by Borneo Stone


Yogya Terhempas Dalam Puisinya

Karya : Zulhamdani,AS



Jemari-Nya mencelup di laut
Melentikkan ke dasar bumi
Yang termenung melihat manusia
berwajah setengah putih,
setengah hitam
Matahari meninggalkan tubuhnya
di ujung cakrawala pagi
Keheningan, seketika hingar bingar
Malaikat pencabut nyawa bernyanyi
dalam nada – nada datar
Menari dengan cahaya di tangan
Tsunami menjemput ruh – ruh orang Aceh

dalam senandung gempa
Ruh – ruh orang Yogya dan Jawa Tengah
saat fajar membuka rok-nya
di atas bumi
Melenggang di atas gunung merapi
Berguling – guling di kaki gunung
Melompat – lompat di atas genting
Keraton Yogyakarta yang rapuh
Bercanda di tanah Mataram
dengan kaki terbuka dan luka

Kematian tidak dapat ditangkis
dengan teknologi manusia
Takdir tidak mau bermain dengan waktu
Waktu mengejar waktu, dikejar waktu
Hari ini bukan lusa esok
Yogya dulu tersimpan dalam museum imajinasi
Alun – alun utara dan selatan dibasahi air mata kenangan
Parangtritis dan Samas terdiam sejenak,
Ketika urat – urat gempa menggelitik dan meludahinya
Para dalang tidak lagi memainkan wayangnya
Semua wayang kabur,
nempel di tembok – tembok benteng keraton
Menjadi bayangan masa lalu
Menjadi sejarah tak tertulis
Menjadi ruh – ruh setia para abdi dalam
Menjadi dalang yang membisu,
duduk bersila di atas pojokan benteng
lalu berkata :
“Aku adalah dalang yang palsu, membawakan lakon – lakon yang palsu. Hingga gempa menukar kejayaan dengan keruntuhan. Akulah sang palsu itu. Yang mendatangkan kemurkaan-Nya.”

Balikpapan, 14 Juni 2006



[+/-] Selengkapnya...

 
Terima Kasih Dunia Atas Segala Inspirasi dan Warna Suara . DuaRibuDuaBelas. MMXII . Firdaus™
Subscribe with Bloglines Blog